Wajah Prajurit TNI Praka Marten Mutilasi Istri Demi Bahagia Bersama Pelakor, Korban Diseret & Tewas

Pembunuhan dan mutilasi Ayu Lestari (26) oleh suaminya, Praka Marten Priadinata Candra yang dibantu selingkuhannya diduga direncanakan dengan matang.

Kini perkara mutilasi yang dilakukan Praka Marten Priadinata Candra terhadap istrinya, Ayu Lestari digelar sidang perdana di Pengadilan Militer Tinggi I Medan, Jln Ngumban Surbakti, Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (7/10/2020).

Untuk menghabisi istrinya kelahiran Kota Kembang, Bandung, Marten terlebih dahulu mengajak putar-putar naik motor.

Sementara itu, anaknya dititipkan.

Namun di belakang kendaraan yang dinaiki pasutri ini, sudah dikuntit dua motor.

Satu motor dinaiki dua wanita, diduga salah satunya selingkuhan Praka Marten. Sedang satu motor lagi dikendarai seorang laki-laki

Ketika motor milik Marten berhenti di jalan sepi, kelapa Ayu Lestari dipukul menggunakan linggis oleh wanita yang ada di boncengan.

Sontak, Ayu terhuyung dan jatuh.

Dalam kondisi korban terkulai, Marten justru menghadiahi bogem mentah beberapa kali.

Bahkan pelaku menarik rambut korban dan menyeretnya hingga beberapa meter.

Dilansir dari Tribunmedan.com, melansir akun Instagram @viralterkini99, berdasarkan hasil pemeriksaan polisi, ternyata korban bernama Ayu Lestari .

Ia diduga dibunuh oleh suaminya sendiri, yaitu Praka MP yang bertugas di Korem 023/KS.

Pembunuhannya terjadi sekitar sebulan lalu. Diduga, istri korban dibunuh dekat lokasi pembuangan sampah.

Sementara itu, dilansir Gridhot dari akun Twitter @litinaar, kerabat korban sudah mencari keberadaan korban sejak 12 April 2020 lalu.

Korban adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Ayah korban adalah seorang tentara yang dinas di Bandung. Keluarga korban berdomisili di Bandung.

Hilangnya Ayu sontak membuat tetangga curiga dan melaporkan pada komandannya. Akhirnya segenap jajaran diperintahkan untuk mencari keberadaan Ayu.

Kesatuan tentara Tapanuli Tengah pun mengabari kesatuan tentara yang berada di Bandung untuk mengabarkan hilangnya Ayu.

Mendapat kabar menghilangnya putri kesayangannya, ayah Ayu yang saat itu tengah bertugas di Lombok, menelepon menantunya, Praka MP.

Namun, Praka MP menjawab dengan santai dan hanya mengatakan bahwa Ayu menghilang.

Pada Rabu (20/5/2020) pagi, muncul sebuah berita yang kurang menyenangkan.

Ayu dikabarkan ditemukan dalam kondisi hanya tersisa tulang belulang dan tengkoraknya saja.

Pada Rabu (20/5/2020) malam, ayah Ayu dipulangkan ke Bandung untuk mengurus kasus putrinya.

Pasalnya, kasus ini adalah kasus pembunuhan yang besar sehingga ia dipulangkan.

Dikabarkan bahwa setelah lebaran, ayah Ayu hendak terbang ke Tapanuli Tengah untuk melanjutkan pencarian sisa anggota tubuh Ayu yang belum ditemukan.

Dibantu Selingkuhan

Berdasarkan unggahan akun Twitter @litinaar, pada Rabu (20/5/2020) sekitar pukul 08.30 WIB, telah ditemukan tengkorak manusia dengan tulang belulang yang sudah mengering dan berserakan.

Tengkorak dan tulang belulang itu diduga adalah Ayu Lestari yang merupakan istri dari Praka MP anggota Kima Korem 023/KS.

Menurut unggahan tersebut, MP kini telah diamankan di Denpom.

Belakangan diketahui bahwa MP rupanya memiliki selingkuhan yang juga turut membantu dalam upaya membunuh istrinya sendiri.

Dalam kasus ini, polisi mengamankan sejumlah barang bukti di tempat kejadian perkara.

Barang bukti tersebut berupa tengkorak kepala yang sudah rusak, tulang betis, tulang rusuk, jilbab warna kuning, sepasang sepatu warna hitam, baju warna putih bergaris warna biru, dan celana jeans warna biru.

Berdasarkan unggahan akun Twitter tersebut, kronologi pembunuhan telah diungkap pelaku.

Pada malam sebelum sang istri dikabarkan menghilang, Praka MP menitipkan anak semata wayangnya.
Praka MP pun berboncengan mengitari daerah sepi bersama istrinya. Kepada Denpom 1/2 Sibolga, Praka MP mengaku hendak mencari tempat yang pas untuk membunuh istrinya.

“Dan ternyata selama naik motor berdua, teh ayu dibonceng MP dibawa muter2 ke daerah sepi. MP bilang ke denpomnya karena mau nyari tempat yang pas buat ngebunuh teh ayu. sesudah nemu yg tepat, dia berhenti dulu buat buka hp dan lanjut lagi jalan,” tulis akun tersebut.

Namun di saat berputar-putar itu, tiba-tiba muncul 2 buah sepeda motor yang membuntuti di belakang.

Salah satu motor tersebut dinaiki oleh 2 orang wanita dan sepeda motor lain dinaiki oleh seorang pria.
Dan tiba-tiba, motor yang dinaiki oleh dua wanita ini menyerang korban dari belakang menggunakan linggis. Korban yang tak mengenakan helm pun lantas terjatuh.

“Oh iya, martin sama teh ayu gak pake helm.. dan dari belakang tiba2 motor yg dinaikin 2 cewek ini mukul teh ayu dari belakang pake linggis. yg mukul cewe yg dibonceng. sesudah itu motor martin sm teh ayu jatuh, dan semua berhenti dipinggir jalan yang pinggirnya jurang hutan gitu,” lanjutnya.

Setelah dipukul, rupanya korban masih sadar, namun ia justru dipukuli oleh suaminya.

“sesudah dipukul gitu, teh ayu masih sadar tapi masih megang erat motor. terus martin tarik kerudung teh ayu sampe lepas terus seret rambutnya sekitar 10 meteran katanya. terus teh ayu sempet bilang “abang kok tega sama adek”

dan disinilah si martin nonjokin muka teh ayu sampe berdarah dan meninggal. dan 3 orang tadi yang 2 cewe 1 cowo bantu martin potong2 tubuh teh ayu. ya allah aku gakuat banget disini nangis tadi diceritain bapaknya,” tulis akun tersebut.

Hingga kini, polisi berhasil menyita sejumlah barang bukti, yakni berupa tengkorak kepala yang sudah rusak, tulang betis, tulang rusuk, jilbab berwarna kuning, sepasang sepatu warna hitam, baju warna putih bergaris warna biru, dan celana jeans warna biru.

Ayah Ayu berharap sidang militer segera diadakan dan Martin, menantunya, segera dijatuhi hukuman.

Hingga berita ini diturunkan akun twitter @litinaar sudah tak bisa diakses karena diduga sudah dihapus sementara akun Instagram @viralterkini99 diprivate.

Sidang di Militer Tinggi

Kini perkara mutilasi yang dilakukan Praka Marten Priadinata Candra terhadap istrinya, Ayu Lestari digelar sidang perdana di Pengadilan Militer Tinggi I Medan, Jln Ngumban Surbakti, Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (7/10/2020).

Praka Marten yang berdinas di Kima Korem 023 / Kawal Samudera, Sibolga itu, menjalani sidang pertama dengan surat dakwaan No: Sdak / 55 / VIII / 2020 tanggal 13 Agustus 2020.

Praka Marten hadir di ruang sidang dengan pakaian dinas lengkap, masker, serta mendapat pengawalan yang ketat dari Provost TNI AD.

tribunnews
Praka Marten Priadinata Candra menjalani sidang perdana di Dilmilti Medan (TRIBUN MEDAN/Ho)

Sidang dengan Nomor Perkara: 50-K / PM.I-02 / AD / IX / 2020 digelar di ruang Sisingamangaraja XII dengan Majelis Hakim Ketua, Letkol Sus Sarifuddin Tarigan, SH, MH, dan Hakim Anggota, Letkol Chk Sudiyo , SH, MH, serta Walikota Sus Ziky Suryadi, SH, MH.

Dalam persidangan, Praka Marten  didampingi pembela hukum, Walikota Chk TB Harefa, SH, dan Serma J Nainggolan, SH, MH dari Korem 023 / KS, dikenakan dakwaan primer Pasal 340 Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP, dengan dakwaan subsider Pasal 338 Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Kepala Hukum Kodam I / Bukit Barisan (Kakumdam I / BB), Kolonel Chk Destrio Irvano SH menjelaskan, pelaksanaan sidang militer ini merupakan transparansi di tubuh TNI.

Bahwa setiap yang dilakukan oleh prajurit pasti akan dikenakan sanksi hukum sesuai berat-ringan jenis yang dilakukan.

“Dalam persidangan kasus ini, Kodam I / BB secara tegas memberikan dukungan penuh untuk penegakan hukum bagi prajurit yang melanggar aturan, dan dipastikan tidak akan ada intervensi atau campur tangan dari pihak manapun demi terwujudnya transparansi di tubuh TNI,” tegas Kakumdam.

Sebelumnya, ingat dengan kasus assmara Prada DP, pelaku pembunuh dan mutilasi Vera Oktaria di Palembang?

Kasus ini sempat ramai sekitar satu tahun lalu dan membuat geger publik.

DP merupakan seorang oknum TNI dengan pangkat Prada dan tengah menjalani pendidikan Infanteri di Dikjur Tamtama Infateri Ridam II Sriwijaya.

Dugaan DP merupakan pelaku mutilasi Vera Oktaria ini diperkuat setelah dirinya dilaporkan kabur dari Dodiklatpur (Komando Pendidikan dan Latihan Tempur) sejak Sabtu (4/5/2019).

tribunnews
Kodam II/Swj Sebar Foto Prada DP Sebagai DPO (SRIPOKU.COM/ANDI WIJAYA, HANDOUT)

Berikut cerita lengkap asmara Prada DP dan Vera Oktaria hingga muncul nama Serli sebagai wanita idaman lain Prada DP.

Mengemis Cinta hingga ke Bengkulu

Terkait kasus pembunuhan ini, terduga pelaku diduga membunuh korban dikarenakan masalah asmara.

Hal ini pun sempat dibenarkan oleh pihak keluarga Vera Oktaria.

Pihak keluarga Vera Oktaria menduga Prada DP mempunyai penyakit Psikopat karena terus-terusan mengejar Vera walaupun sudah ditolak sehingga sampai tega membunuh Alm Vera.

“Memang ada laki-laki yang mencintainya namun Vera menolaknya. Tapi bagi kita hal biasa kalau ditolak itu, herannya ini membunuh adik saya. Jangan-jangan dia ini punya penyakit Psikopat. Wah gawat kalu begitu dikit-dikit ditolak langsung mau ngebunuh,”ujar Firdaus Djailani (Suami dari Kakak perempuan Vera) Kepada Sripoku.com, Senin (13/5/2019).

Dari keterangan Firdaus Ramadhan ini Vera pernah ikut bersamanya selama 2 tahun selepas Vera tamat SMA.

Disana Vera juga bekerja dan membantu mengasuh anak dan keponakannya.

Firdaus mengatakan DP pernah nekat datang ke Bengkulu untuk bertemu dengan Vera Oktaria namun suami dari kakak perempuannya itu menolaknya.

“Sekitar setahun lalu DP ini pernah datang ke Bengkulu dan menelpon saya, yang mana ia ingin main kerumah dan bertemu langsung dengan Vera. Namun saya menolaknya karena nada bicara DP tidaklah sopan dalam berkomunikasi lewat telepon,”katanya

Ketika ditanya tentang DP pernah mengajak Vera bertemu dengan orang tua DP (sebelum DP pergi pendidikan) untuk membicarakan hubungan serius antara DP dan Vera, Firdaus membantahnya bahwa tidak ada komunikasi dari keluarga DP untuk membahas hubungan serius tersebut.

“Tidak ada, tidak ada komunikasi tentang hubungan serius antara keduanya. Kalu pacaran kami juga tau dan kami juga menganggap DP dan Vera itu pacaran biasa saja dan kami belum setuju tentang itu. Karena kami mau melihat DP secara mendalam. ,”kata firdaus.

Dugaan ini semakin diperkuat ketika Firdaus mengetahui cerita Vera kepada teman-temannya sebelum meninggal.

“Salah satu teman korban bercerita sebelum Vera meninggal pernah berkata ‘Dari pada dia jatuh ke cowok lain lebih baik aku bunuh’ itu yang dikatakan Vera kepada teman-temannya,” pungkas Firdaus.

Dikenal Posesif

Fakta lain diungkap ibu korban, Suhartini (50).

Ia mengatakan bila anaknya memang menjalin hubungan dengan DP sejak masih di bangku SMP.

Namun menurut pengakuan sang ibu, hubungan ini telah lama kandas.

Hal ini lantaran DP dikenal memiliki perangai yang kasar dan posesif kepada anaknya.

Saking kasarnya, DP bahkan diketahui pernah main tangan dengan korban saat masih pacaran.

“Anak saya pernah dipukul selama mereka pacaran. Dia tidak berani melawan karena tidak ada yang menolong, jadi anak saya tidak mau lagi dengan pacarnya itu,” kata Suhartini.

Akibatnya, korban tak lagi tahan dengan sikap DP kemudian memutuskan untuk tidak lagi berpacaran.

Namun menurut pengakuan sang ibu, keputusan anaknya itu tidak diterima baik oleh DP.

DP menjadi posesif dan kerap mencari-cari keberadaan korban.

Hal ini membuat Vera sering ketakutan dan gelisah terhadap DP.

DP terlihat posesif, terlalu cinta dan cemburuan dengan Vera.

“Vera pernah cerita dengan saya, dirinya tidak mau lagi dengan DP, tetapi DP terus memaksanya. Ini karena DP sering kasar dan main tangan,” katanya.

Aksi kekerasan yang dialami Vera pun, sambung Suhartini, sering terjadi di rumahnya.

“Nah ketika anak saya cerita, saya bilang kepadanya mengapa saat itu dia (Vera-red) tidak berteriak atau menjerit. Tidak bisa mak, jujur di rumah kita ini Vera merasa aman,” katanya.

Sementara itu dari keterangan kakak perempuan alm Vera Oktaria mengatakan pada saat rabu ketika Vera masuk kerja shift siang dan pulang malam.

Ia sempat menelphone HP adiknya itu namun tidak aktif lagi dan keesokan paginya Ia beserta keluarganya langsung menuju kerumah DP untuk mempertanyakan keberedaan Vera. Namun tak dapat jawaban yang diharapkan.

“Semenjak rabu saat Vera tidak ada kabar keesokkan paginya kami langsung kerumah DP dan menyakakan Vera. Yang ada kami cuma mendapatkan jawaban dari neneknya DP bahwa 3 hari yang lalu DP juga pergi dari pendidikan dan juga tidak tau keberadaannya,”ujar Kakak Perempuan Vera.

Dibunuh oleh sang pacar, Prada DP

tribunnews
Foto Prada DP Sebagai DPO (SRIPOKU.COM/ANDI WIJAYA, HANDOUT)

Menurut Polda Sumsel, Prada DP diduga sebagai tersangka karena polisi sudah mendapatkan kejelasan siapa korban melalui pemeriksaan sidik jarinya.

“Dan sudah dilakukan pemeriksaan pada saksi keluarga dan dari sini polisi mendapatkan juga sidik jari pacar Vera Oktaria, yakni Prada DP,” ungkapnya.

Alamat rumah Prada DP ternyata tidak jauh dari rumah Vera Oktaria di Plaju.

Namun setelah sempat kabur, akhirnya pada Kamis (13/6/2019) lalu Prada DP ditangkap di padepokan Monghiang Serang Banten.

Prada DP Punya Wanita Idaman Lain Bernama Serli

Serli Marlita, perempuan mengaku pernah berpacaran dengan Prada DP sejak kelas 1 SMA.

“Saya sudah berpacaran dengan Deri (Prada DP) sejak SMA kelas 1 tapi hilangan begitu saja tanpa ada kata putus. Lalu Deri DM lewat instagram minta no HP dan video call. Terus jemput ngajak ke kosannya,’ujar Serli saat memberikan keterangan dalam persidangan.

Serli mengatakan bahwa niat Deri menjemputnya karena Prada DP ingin curhat dengan dirinya.

Serli mengatakan saat bercerita ekpresinya gelisah dan mengatakan bahwa dirinya bermasalah di pusat pendidikan Baturaja.

Dengan mata yang berkaca-kaca Serli mengatakan pernah menginap di kosan terdakwa

“Yang saya tahu Deri (Prada DP) kost disana selama 4 hari dan pernah menginap tapi saat itu dalam kondisi tidak sadar tiba-tiba terbangun jam 3 sendirian di kosan deri tanpa ada deri. Saya di kunci dari luar tak bisa keluar sampai-sampai saya teriak minta dengan kosan tetangga,”katanya

Kemudian ada tetangga yang menolong. Dirinya tak tau dimana keberadaan dan HP miliknya dibawa lari.

tribunnews
Dengan menggunakan pakaian putik bercorak hitam dan celana hitam Imelda berikan kesaksiannya di Persidangan Militer I-04, Selasa (6/8/2019) (SRIPOKU.COM/HARIS WIDODO)

Selanjutnya Imelda saksi ke-7 yang hadir di Persidangan Militer I-04 memberikan kesaksian dalam persidangan. Ternyata meninggalnya Vera Oktaria dengan cara dibekap bukanlah hal yang pertama, bahkan pada saat masih berhubungan terdakwa prada DP masih melakukannya.

Pantauan Sripoku.com, Selasa (6/8/2019) hadir dengan menggunakan pakaian Putih bercorak hitam dan celana hitam Imelda memberikan keterangan kepada Oditur.

Imelda mengatakan bahwa mengenal keduanya karena rumahnya dekat dengan korban Vera Oktaria.

“Saya tau mereka berdua pacaran karena Vera dekat dengan saya. Waktu itu hubungan mereka putus nyambung. Bahkan waktu itu mereka sempat bertengkar di rumah Vera. Dan ada teriakan minta tolong,”ujar Imelda saat memberikan kesaksian.

Mendengar suara tersebut sontak dirinya langsung ke sumber suara dan melihat ternyata Prada DP membekap Vera dengan posisi Deri di atas tubuh Alm Vera di atas kasur tepatnya di ruangan tengah rumah Alm Vera.

Melihat ada yang datang Deri pun melepasan bekapan lalu terdakwa pergi dari rumah Vera. Sementara itu, Terdakwa Prada DP bertanya kepada saksi atas hal itu

“Darimana mana kamu hal itu terjadi. Setahu saya pada saat itu kamu baru datang dengan ibu korban,”kata Deri

Lalu Imelda menjawab ‘Memang bener seperti itu,”jawabnya.

yang menjadi bahan pembicaraan pada saat sidang pertama masuk dalam persidangan untuk memberikan kesaksian ke-8 pada sidang terdakwa Prada DP di Peradilan Militer I-04.

Biaya Sekolah Prada DP Dibayari Vera Oktaria

Tak hanya mengakui hubungannya dengan Prada DP, Serli juga mengungkap fakta mencengangkan.

Pasalnya, biaya sekolah DP dibayari oleh kekasihnya yang dibunuh dan dimutilasi itu.

Di hadapan Serli, Prada DP menyebut jika korban, Vera Oktaria, membuatnya kecewa.

Berdasarkan cerita yang didengar Serli, Prada DP kecewa karena korban tak kunjung mau datang ke rumah untuk dikenalkan ke orangtua terdakwa.

“Dia cerita dengan saya, Fera itu yang biayai sekolahnya si DP. Hp yang dipakai Fera itu dari dia, Fera kan sering di rumah. DP sering ke rumah Fera bawa makanan, tapi Fera tidak pernah mau kalau diajak ke rumah DP,” jelas saksi.

Serli pun mengatakan bahwa Prada DP mengaku sudah putus hubungan dengan Vera Oktaria.

“Saya sudah putus, saya sudah kesal,” ucap Serli menirukan kata-kata Prada DP waktu itu.

             HALAMAN SELANJUTNYA