Menu
Sekedar Info Saja

Viral Foto Kemayoran dengan Latar Gunung Gede Pangrango, Roy Suryo: Emang Bukan Tempelan Tapi Editan

  • Bagikan

Pakar Telematika Roy Suryo membongkar hasil karya Fotografer Ari Wibisono yang viral di media sosial.

Ia juga ikut membantah tudingan Fotografer Senior Arbain Rambey yang menyebut kalau foto Gunung Gede Pangrango di fotonya adalah tempelan.

Menurut Roy Suryo, foto tersebut memang bukan tempelan, melainkan hasil editing.

Ia pun membantah caption Ari Wibisono yang menyebut bahwa Jakarta bebas polusi.

Sebab, klaim itu ditulis oleh Ari Wibisono dalam caption foto suasana di Kemayoran, Jakarta Pusat, dengan latar belakang Gunung Gede Pangrango.

Dengan latar belakang Gunung Gede Pangrango yang terlihat jelas berdasarkan hasil editing, menurut Roy Suryo, hal itu tidak bisa disebut Jakarta bebas polusi.

Sebab pada foto asli yang belum diedit, pemandangan Gunung Gede Pangrango tidak sejelas foto yang sudah diedit.

Melalui akun Twitternya, Roy Suryo pun memposting foto asli dan foto hasil editan.

Pada foto asli, tampak Gunung Gede Pangrango terlihat bayangannya saja.

Sementara pada foto hasil editan, pemandangan Gunung Gede Pangrango itu sangat terlihat jelas guratan-guratannya.

Begitu juga awan-awan yang ada di sekitarnya sangat terlihat dengan jelas.

“Tweeps,

Lagi heboh foto karya Ari Wibisono di IG ttg “Foto Gunung Pangrango” yg sangat jelas, seperti bebas Polusi (emoji sinis)

Ini memang bukan Foto “tempelan” tetapi hasil Retouch (Editing) dgn Lightroom utk atur Clarity, Shadow, Contrast dsb.

Bandingkan Foto Asli kiri & Hasil edit kanan,” tulis Roy Suryo.

Hingga berita ini diturunkan, TribunnewsBogor.com sudah menghubungi Ari Wibisono, namun belum mendapat jawaban.

Tudingan Tempelan

Sementara itu, dilansir dari Kompas.com, Ari Wibisono mengaku siap membuktikan dengan memperlihatkan foto asli berikut kameranya.

Hal itu disampaikan Ari menjawab tuduhan Arbain Rambey, fotografer senior, bahwa foto tersebut hasil “tempelan”.

Tuduhan Arbain itu kemudian ramai ditanggapi warganet di media sosial.

“Saya akan memperlihatkan foto asli dari kamera dan dibandingkan dengan hasil post pro yang sudah tayang di Instagram,” ujar Ari kepada Kompas.com, Rabu (17/2/2021) malam.

“Semua data saya bongkar demi mengembalikan nama baik saya di dunia fotografi,” tambah Ari.

Ari merasa tuduhan Arbain atas karyanya sudah sangat mencemarkan nama baik dan kariernya di dunia fotografi.

Ari ingin ada permintaan maaf dari Arbain.
“Ini (tudingan Arbain) bikin nama dan karier saya tercemar banget. Saya tuh mulai dunia foto baru-baru ini belajar lewat YouTube. Saya enggak mampu buat kursus, otodidak,” tambah Ari.

“Saya ingin ada permintaan maaf dari Mas Arbain,” tambah dia.

Ari juga sudah memberikan klarifikasi lewat akun Instagram-nya @wibisono.ari.

Ia memberi penjelasan dan mengunggah sejumlah foto lain untuk membuktikan tidak ada manipulasi foto.

Dalam berita di Kompas.com sebelumnya, Ari mengatakan, foto tersebut diambil pada Rabu pagi dari lokasi di Kemayoran.

Ia mengaku sengaja ingin menggambarkan Kota Jakarta dengan latar belakang Gunung Gede Pangrango.

Terlihatnya gunung tersebut, kata dia, menandakan kualitas udara Jakarta sedang bersih.

“Sengaja lagi hunting naik motor lewat flyover Kemayoran arah Gunung Sahari. Pas di jembatan, saya berhenti,” ujar dia kepada Kompas.com.

“Pukul 06.20 WIB sampai jam 07.00 WIB, gunung masih terlihat gagah. Jelang jam 07.30 WIB, gunung mulai hilang pelan-pelan,” tambah dia.

Tuduhan Arbain

Fotografer Arbain sebelumnya mengomentari foto karya Ari yang diunggah akun Twitter Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta @dinaslhdki.

“Ini foto tempelan. Untuk dapat Pangrango segede gitu, butuh tele panjang lalu motret dari jauh.

Melihat perbandingan mobil depan dan belakangnya, jelas tak memakai tele panjang,” tulis Arbain di akun Twitter-nya @arbainrambey.

Arbain meyakini ukuran Gunung Gede Pangrango di foto seharusnya tidak sebesar itu jika melihat ukuran jalan.

“Saya bukan bilang gunungnya gak ada loh…

saya bilang ukuran gunung Pangrangonya tak segede itu di bidang fotonya kalau jalan di bawahnya perspektifnya seperti itu,” kata dia.

“Ini twit yang semoga penghabisan untuk polemik foto gunung: Perspektif gunung ke foreground gak nyambung dgn perspektif mobil2 yg tampak.

Gunung ke foreground itu compactionnya gila2an (tele panjang buanged). Sedangkan perspektif mobil2 itu tampak pakai tele pendek,” tulis Arbain.

“Akhir diskusi ini sederhana…memang backgroundnya jadi tempelan karena olahdigital yang kelas berat seperti di foto yang disebut aslinya ini…,” tambah dia.

  • Bagikan