Menu
Sekedar Info Saja

Tak Terima, Pemasang Akan Bangun Lagi Tembok yang Tutupi Rumah Warga di Ciledug

  • Bagikan

Tembok yang jadi penghalang akses keluar masuk rumah Hadiyanti (60), warga Ciledug, Kota Tangerang dirobohkan. Namun, pemilik lahan yang membuat tembok tersebut tak terima pembongkaran itu.

Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang menurunkan dua eskavator untuk merobohkan tembok tersebut. Tak perlu waktu lama, eskavator mampu meratakan tembok setinggi sekitar dua meter tersebut.

Kepala Satpol PP Kota Tangerang Agus Hendra menegaskan, keberadaan tembok itu melanggar peraturan daerah. Sehingga, Pemkot Tangerang memiliki dasar hukum untuk merobohkan tembok tersebut.

“Jadi seperti disampaikan sebelumnya bahwa kegiatan kita dalam rangka ketenteraman, ketertiban umum. Yang dilanggar sama dia (pemilik lahan ditembok) Perda 8/2018 tentang Ketentraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Umum Masyarakat,” ujar Agus, di Ciledug, Tangerang, Rabu (17/3/2021).

“Kemudian setiap bangunan, gedung, non-gedung, termasuk pagar harus mendapatkan izin dari pemerintah daerah. Jadi yang bersangkutan yang pertama membangun di badan jalan, yang kedua kalau dia harus membangun, harus memiliki izin dari pemerintah kota dan yang bersangkutan tidak ada izin itu,” katanya.

Pemkot Tangerang telah memberi peringatan kepada pemilik lahan yang ditembok untuk melakukan pembongkaran sendiri. Namun, peringatan itu tak dituruti.

“Sanksi administratif berdasarkan peraturan daerah salah satunya adalah dilakukan pembongkaran. Tapi perlu diketahui juga sebelumnya peringatan pertama, kedua, ketiga, bahkan peringatan terakhir kita masih memberikan kesempatan kepada yang bersangkutan untuk bisa membongkar sendiri. Tapi sampai batas waktu yang ditentukan, ternyata yang bersangkutan tidak membongkar, kami dari tim gabungan dari pemerintah kota bersama TNI-Polri dan semua instansi yang ada melakukan pembongkaran,” ujarnya.

Pihak Pemasang Tembok Tak Terima

Pihak pemasang tembok, yang mengklaim sebagai pemilik tanah bernama Rully. Rully adalah ahli waris Anas Burhan. Saudara Rully yang juga ahli waris Anas Burhan, Herry Mulya, angkat bicara mengenai pembongkaran ini.

“Pertama, kami menyayangkan kegiatan pembongkaran yang dilakukan aparat hari ini karena tidak adanya keputusan pengadilan terlebih dahulu. Tapi kami harus menerima itu karena kami tidak mau melakukan perlawanan kepada aparat. Kami akan meneruskan berdasarkan hukum yang berlaku,” kata Herry, di sekitar rumah Hadiyanti, Ciledug, Kota Tangerang, Rabu (17/3/2021).

Herry menegaskan tembok yang berdiri di sekitar rumah Hadiyanti adalah tanahnya. Dia membantah telah menutup akses keluar-masuk rumah Hadiyanti.

“Yang kedua, kami ingin menginformasikan bahwa tidak benar kami tidak memberikan akses di tempat sini (rumah Hadiyanti). Penyebab kenapa dipagar itu adalah kekhawatiran kami akan diserobot tanah kami karena pemilik sebagian bangunan ini Ibu Yanti, mau menjual tanahnya dan mengikutkan tanah kami,” ujarnya.

Herry mengatakan tanah di depan rumah Hadiyanti belum dihibahkan. Dia pun kembali mengungkapkan tanah ayahnya belum diwariskan atau kepemilikannya masih atas nama Anas Burhan.

“Kami saja belum pecah waris, belum pecah waris. Jadi ayah saya, Haji Anas Burhan itu sudah meninggal tahun 2009, ya. Kami ada ahli warisnya 4 orang. Kami belum waris sama sekali. Jadi tidak mungkin ada hibah-hibah atau apa. Tidak mungkin itu karena kepemilikannya masih diatas AJB (Akta Jual Beli Nomor) 498. Masih atas nama Anas Burhan,” ucap Herry sambil memperlihatkan surat AJB.

Herry pun memperlihatkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan (SPPT PBB). Dia juga memperlihatkan sketsa kepemilikan tanah Anas Burhan

“Ini adalah tanah ini, ini tanahnya. Ini tanah semuanya, sebagian punya Haji Munir dan Ibu Yanti, sebagian masih punya kami. Termasuk tadi yang mungkin bapak dengar, itu tanah kami juga. Kenapa kok tiba-tiba buang puingnya di tempat kami, gitu. Kami juga membayar pajak lho. Jadi semua itu ada bukti-bukti kepemilikannya dari lahan ini,” kata dia.

Keluarga Hadiyanti Membantah Bakal Serobot Tanah

Keluarga yang akses rumahnya dipasangi tembok, Acep Waini Munir (28), membantah akan menjual tanah milik pemasang pagar. Dia malah menyebut keluarga Anas Burhan ingin membeli tanah Hadiyanti.

“Untuk masalah jual, orang tua kami memang jual, tapi tidak menawarkan. Sempat dijual tapi karena… dia (keluarga Anas Burhan) itu apa ya, memaksakan kami jual (tanah),” kata Acep saat ditemui di rumahnya, Ciledug, Kota Tangerang, Rabu (17/3/2021).

“(Keluarga Anas Burhan) memaksa kami jual (tanah Hadiyanti) ya untuk beli ini lagi dia, memaksa kami suruh jual, gitu. Tanpa, diam-diam dia menyodorkan uang Rp 500 juta,” lanjutnya.

Namun Acep mengaku tidak mengingat kapan keluarga Anas Burhan ingin membeli tanah ibunya. Dia hanya mengatakan tanah atas kepemilikan Anas Burhan memang ada di samping rumahnya.

Acep enggan memperlihatkan bukti kepemilikan atau denah sketsa tanah Hadiyanti. Saat diperlihatkan sketsa denah tanah Anas Burhan, Acep mengaku gambarnya kurang dapat dipahami. Dia hanya menegaskan keluarganya tidak menyerobot tanah Anas Burhan.

“(Bukti kepemilikan tanah kami) dipecah empat. Tanah kami suratnya empat. Surat saya empat, empat surat, jadi dipecah-pecah. Kalau memang dipermasalahkan tanah dia di situ, ya silakan dipagar gitu, dipagar saja. Kami nggak memiliki tanah dia, 1 meter pun nggak miliki,” kata Acep.

“Iya, memang ada tanah dia (Anas Burhan) di paling belakang (rumah). (Ada) tanah merasa miliknya, memang ada. Memang ada dia, tanah dia paling belakang. Saya nggak merasa ambil sepersen pun, 1 meter pun saya nggak ambil. Kalau ngerasa milikin, oke, siap kami beton gitu aja. Kami pagar,” jelasnya.

Acep lalu memperlihatkan batas tanah Anas Burhan dan Hadiyanti yang berada di samping rumahnya. Ketika dilihat, ada dua kolam renang di samping rumah Hadiyanti.

Ada sebuah kawat panjang yang ditaruh di antara kolam renang itu. Acep menjelaskan kawat ini adalah batas kepemilikan tanah Anas Burhan dan Hadiyanti.

Dia lalu menunjukkan dua tanda garis panah di tembok dan sebuah tulisan bertuliskan ‘SHM 063 a/n H. Anas Burhan’. Dijelaskan Acep, batas sebelah kiri atau ke sisi ujung arah pemakaman dari tanda garis/kawat adalah tanah milik Anas Burhan. Sedangkan sisi sebelahnya milik Hadiyanti.

  • Bagikan